Identifikasi Tutupan Lahan 295 Hektar Dengan Drone 

Pemetaan lahan jadi bagian yang masih diperlukan untuk jangka panjang. Sebab lahan akan terus mengalami perubahan seiring lamanya area digunakan dan faktor alam yang mempengaruhi. Sebagai upaya mengenali dan memperbarui area yang dimiliki, maka diperlukanlah pemetaan. 

Salah satu contoh penggunaannya yakni identifikasi pemetaan tutupan lahan. Sebagai bagian dari ilmu geografi, arti penutupan lahan yaitu permukaan bumi yang ditutupi hasil aktivitas dan pengaturan manusia pada area tersebut. 

Selama area tersebut ditinggali, beragam bangunan dan tumbuhan turut akan mengisi area tersebut dan menutup permukaan tanah. Misalnya di wilayah pendidikan yang dahulu areanya sedikit digunakan, dan di kemudian hari areanya jadi padat karena bangunan yang ada. Pada waktu tertentu, lahan area tersebut akan tertutupi dan perlu dilakukan identifikasi kembali sebagai pembaruan pemetaan.

Hasil pemetaan penutupan lahan ini berupa gambaran area yang disajikan secara aerial / vertical. Dengan begitu, nantinya area bisa diidentifikasi berupa luas lahan-lahan yang telah dipakai untuk bangunan atau ditanami tumbuhan.

Untuk melakukan identifikasi penutupan lahan diperlukan aktivitas pemetaan seperti biasanya. Dengan keilmuan pemetaan, sangat memungkinkan identifikasi tutupan lahan hingga ratusan hektar. Namun luasnya lahan harus berhadapan dengan tenaga dan waktu manusia yang terbatas. 

Maka dari itu diperlukan cara terbaru yang bisa lebih menguntungkan pemetaan lahan dan tenaga manusia. Saat ini adaptasi teknologi menjadi salah satu upaya, misalnya teknologi pesawat tanpa awak atau drone. 

Kemampuan drone untuk mengudara memberi keuntungan identifikasi tutupan lahan. Berkat sensor drone yang dimiliki juga, banyak aktivitas pemetaan yang melirik teknologi ini untuk digunakan.

Salah satu penggunaan drone pada pemetaan yaitu identifikasi tutupan lahan kawasan hutan seluas 295 hektar. Dengan kemampuan pesawat nirawak ini, harapannya kawasan seluas itu bisa dipetakan lebih murah dan cepat dibanding cara konvensional. Kawasan hutan ini dimiliki oleh Fakultas Kehutanan Unmul yang karakteristiknya habitat hutan tropis. 

Jenis drone yang digunakan yaitu quadcopter seperti DJI Phantom Pro atau terbaru seperti DJI M300. Nantinya drone akan diterbangkan mengelilingi kawasan hutan yang dibagi menjadi enam bagian. Selagi terbang, sensor drone akan mengakuisisi citra foto udara untuk nantinya disatukan menjadi orthophoto. 

Hasilnya, akuisisi foto bisa mendapat 949 foto area hutan untuk nantinya dijadikan orthophoto. Salah satu cara menyatukan ratusan foto menjadi satu foto dengan diolah dengan software pemetaan yaitu agisoft photoscan. Software ini sangat lazim digunakan untuk pembuatan orthophoto untuk pemetaan lahan. 

Sedangkan tingkat akurasi hasil drone pemetaan menunjukkan capaian 95% dan bisa dilakukan identifikasi tutupan lahan. Bentuk orthophoto dari kawasan hutan seluas 250 hektar lalu dianalisis untuk mendapat data lebih lanjut. 

Hasil analisis tutupan lahan menunjukkan jika kawasan hutan terdiri dari 12 jenis vegetasi dan tutupan lahan. Data analisis juga menunjukkan masing-masing luas jenis vegetasi yang dimiliki. 

tutupan lahan
tutupan lahan

Diantara banyaknya jenis di kawasan tersebut, jenis hutan sekunder menduduki urutan pertama yang paling luas. Sedangkan luas yang paling kecil yaitu pertanian lahan kering.

Penggunaan drone sebagai pemetaan lahan tutupan lahan nampaknya sangat mungkin untuk dilakukan. Tingkat akurasi yang dihasilkan pun bisa mendekati 100% drone yang digunakan memiliki jangkauan terbang yang tinggi, serta sensor kamera drone yang lebih mumpuni. 

Sebagai pembaruan peta area, penggunaan drone bisa membawa banyak keuntungan bagi pemilik. Karena bisa dilakukan dengan estimasi waktu dan tenaga yang lebih singkat dan hasil yang akurat. 

Sebagai acuan, hasil orthophoto drone bisa memberi luas objek serta luas area dalam beberapa olahan. Bahkan jika drone disematkan sensor lidar, mampu memberi banyak lagi informasi permukaan tanah yang disajikan sesuai kebutuhannya. 

Referensi: Jurnal

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Open chat
Halo, ada yang bisa kami bantu?