Drone Spraying: Meningkatkan Produktivitas dan Mengurangi Resiko Kesehatan Petani

Sejak dahulu, pertanian Indonesia menjadi andalan dalam menyediakan pangan yang berkualitas. Dengan tanah yang subur, segala jenis pertanian punya potensi menjadi sektor bisnis yang menjanjikan. Bukan cuma potensi berkembangnya tanaman pertanian, tetapi potensi teknologi bisa hadir dengan mengadaptasi drone spraying

Agriculture drone atau drone spraying ialah pemanfaatan drone yang pirantinya dimodifikasi untuk membantu tumbuh tanaman dan produksi pertanian. Teknologi ini bertujuan membantu petani atau perusahaan perkebunan mendapat hasil terbaik dari tanah yang luas secara cepat dan hemat. 

Pembeda drone ini dengan yang lain bisa dilihat dari bentuknya dan cara kerja. Pada drone spraying bentuknya dibuat agar bisa membawa tangki penampung kapasitas 10 liter – 20 liter. Serta dilengkapi pompa dan penyemprot/nozzle untuk di sisi drone. Sedangkan cara kerjanya tidak sebatas semprot pestisida saja, tetapi bisa juga untuk memantau lahan. 

 

Resiko Kesehatan Pertanian Tradisional

Kegiatan pertanian tradisional umumnya meliputi penyebaran bibit, penyiraman pestisida, sampai pemantauan tanah. Petani mesti berjalan sambil membawa alat sekian hektar dan menghabiskan sekian hari. Tenaga dan waktu petani yang biasa dikeluarkan kini bisa berkurang berkat drone spraying. 

Biasanya petani bekerja dengan menggendong pompa berisi pestisida dengan berat sekitar 20 kilogram. Lahan demi lahan disemprotkan pestisida dengan efek cairan yang terhirup dan terkena kulit selama aktivitas. Belum lagi penyemprotan pestisida tidak ada porsi khusus sehingga bisa habis lebih cepat. 

Tidak sedikit kasus petani mengalami keluhan pusing akibat pestisida. Resiko pestisida lain kerap membuat petani muntah, kulit gatal, dan pingsan. Sehingga resiko petani terkena penyakit bisa turut berkurang.

Seberapa produktif drone spraying?

Amran Sulaiman, Mantan menteri pertanian menyebut, produktivitas pertanian bisa mencapai 30,6 persen. Penggunaan drone spraying bisa menambah pendapatan petani dari Rp. 1,3 juta hingga Rp. 5 juta. Sangat menjanjikan penggunaan teknologi ini di sektor pertanian.  

Belum lagi penyemprotan pestisida seluas 1 hektar bisa diselesaikan dalam 12-17 menit saja. Menjadi hal yang luar biasa karena bisa memangkas waktu dari 6 – 12 jam. 

Bahkan jika teknologi drone yang lebih maju lagi bisa mendapatkan waktu lebih singkat. Salah satunya pada pertanian di Malaysia bisa mendapatkan 1 Hektar dengan waktu 10 menit. Kalau diakumulasi pada lahan seluas 5 hektar bisa menghabiskan waktu 50 menit.

Petani juga bisa mengatur penggunaan banyaknya pestisida yang disemprotkan. Luasnya tanah dengan banyaknya volume air bisa digunakan secara terukur. Dengan adanya fitur terukur tersebut bisa menghemat perencanaan anggaran pertanian. 

 

Penggunaan Drone dalam pertanian

  1. Penyebaran Bibit
  2. Kontrol kualitas tanaman
  3. Menyemprot tanaman
  4. Pemupukan tanaman
  5. Memantau keamanan lahan
  6. Memantau kualitas tanah (sensor thermal)

 

Saat ini sudah banyak drone yang dibuat untuk pertanian. Bahkan Indonesia pun sudah bisa membuat drone spraying.

  1. Dji Agras
  2. Ea Vision EA-2021
  3. Sense Fly eBee SQ 
  4. Draganfly Quantix Mapper 
  5. Drone Agro V3
  6. Sekar Agri buatan Frogs Indonesia

 

Capaian indonesia menjadi negara food estate dan smart farming sangat mungkin tercapai. Adanya teknologi tersedia bisa memberi ruang petani maupun perusahaan pertanian/perkebunan mendapat hasil yang terbaik.  

Referensi : Jurnal Pentingnya Drone Sprayer di Sektor Pertanian Khususnya Bagi Petani Indonesia

3 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Open chat
Halo, ada yang bisa kami bantu?