Penggunaan Sensor Drone Fixed Wing Untuk Pemetaan dan Sensus Kelapa Sawit

Pertumbuhan sektor usaha perkebunan diperkirakan bertambah sebanyak 4 – 5,5% berdasarkan Biro Riset BUMN 2021. Khususnya pada luas lahan kebun kelapa sawit telah mencapai total 16,381 juta hektar di Indonesia.

Semakin luas maka perlu ditingkatkan pula produktivitas lahan yang ada. Salah satu indikasi produktivitas tersebut bisa dilihat dari populasi kelapa sawit per hektar. Pohon demi pohon perlu dihitung agar terlihat celah yang bisa diisi. 

Sayangnya, aktivitas perhitungan atau evaluasi jumlah kelapa sawit memiliki kendala. Karena jika dilakukan dengan sensus manual membutuhkan waktu yang lama dengan tingkat akurasi yang rendah. 

Jawaban masalah di atas adalah dengan mengandalkan Unmanned Aircraft Vehicle (uav) atau drone. Pesatnya perkembangan teknologi drone telah diadaptasi untuk membantu pekerjaan manusia. Meski awalnya drone digunakan untuk kebutuhan militer, namun sekarang pemanfaatan drone bisa digunakan sampai sektor perkebunan.

Kondisi kebun lahan sawit yang luas akan cocok dengan kemampuan drone yang cepat dan akurat. Misalnya, mendapatkan data spasial lahan ini untuk mengukur luas dan mengevaluasi populasi pohon per hektar. Nantinya tanaman akan diketahui berdasarkan yang terkena penyakit, mati, terserang hama dan lainnya.

Drone yang sesuai dengan kebutuhan tersebut drone tipe fixed wing. Karena jangkauan terbangnya untuk area yang luas dan cepat mendapatkan data. Bagi perusahaan perkebunan, aktivitas seperti pembuatan peta blok, topografi, dan peta tanaman bisa didapatkan dengan singkat. 

Baca Juga Pemetaan drone: cara baru surveyor

Efisiensi dan Efektivitas Sensor Drone Fixed Wing Pemetaan Kebun dan Sensus Pohon

Pada kasus kelapa sawit seluas 53,53 Ha, sensus pohon bisa dilakukan secara manual maupun dengan drone. Meskipun bisa dilakukan dengan dua cara tersebut, tetapi akan terdapat perbedaan secara waktu dan tenaga. 

Hasil sensus pohon secara manual menghabiskan waktu 72 jam atau 3 hari. Hasil dari sensor drone fixed wing yakni 40 menit dengan luas area yang sama. Sehingga terlihat seberapa signifikannya kedua cara tersebut. 

Secara biaya, terdapat perbedaan yang sama signifikannya. Biaya yang dikeluarkan pada sensus manual, dengan asumsi nilai dan jumlah HK per tahun 2020, akan mengeluarkan Rp. 2.700.000. Dibanding dengan biaya sensus menggunakan drone fixed wing, rerata biaya per hektarnya sebesar Rp. 8.000. 

Data yang didapat dari drone akan menghasilkan visual yang rinci sesuai kondisi lapangan. Karena data telah diolah menggunakan komputer dan software pemetaan. Selain itu, data sensus digital ini bisa menyajikan beberapa data sesuai kebutuhan. 

Perbedaan kedua cara diatas nampaknya signifikan untuk kebutuhan perusahaan perkebunan. Hasil yang akurat dan cepat bisa menjadi keunggulan drone tipe fixed wing. 

Salah satu kemampuan lain drone kerap digunakaan sebagai drone pemetaaan untuk lahan yang sangat luas.

Sehingga kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas lahan kelapa sawit bisa dimaksimalkan sesuai target. Terlebih kebutuhan produk kelapa sawit semakin meningkat permintaannya setiap negara. 

Referensi:  Jurnal Efektivitas dan Efisiensi Pemakaian Drone Fixed Wing pada Pemetaan Kebun Dan Sensus Pohon Kelapa Sawit

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Open chat
Halo, ada yang bisa kami bantu?