Indonesia memiliki potensi energi angin yang cukup besar, dari total potensi energi angin nasional sekitar 154,6 GW, potensi pengembangan onshore wind atau Pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) diperkirakan mencapai sekitar 60,4–60,6 GW. Sejumlah wilayah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, pantai selatan Jawa, Kalimantan Selatan, dan Papua menjadi kawasan yang memiliki potensi untuk dikaji lebih untuk dimanfaatkan. Potensi angin bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan, kondisi lahan dan kesiapan lokasi juga menjadi bagian penting dalam perencanaan proyek. Pengembangan proyek onshore wind (pembangkit listrik tenaga bayu/angin) darat membutuhkan informasi mengenai kondisi lahan secara detail sebelum memasuki tahap desain dan konstruksi. Bentuk permukaan, perbedaan elevasi, kemiringan lahan, akses menuju lokasi, hingga keberadaan objek di sekitar area perlu dipahami sejak awal. Dalam proses tersebut, teknologi drone untuk survei topografi dapat digunakan untuk mengumpulkan data spasial secara efisien pada area yang luas dan memiliki kondisi medan yang beragam.
Memahami Kondisi Lahan Sebelum Pembangunan
Pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) membutuhkan area yang dapat mendukung penempatan turbin sekaligus pembangunan berbagai infrastruktur pendukung. Kondisi setiap lokasi dapat berbeda, mulai dari lahan relatif datar hingga kawasan dengan lereng, vegetasi, sungai, maupun akses yang terbatas. Survei topografi membantu menyediakan gambaran mengenai kondisi tersebut melalui data elevasi dan informasi spasial lainnya. Data yang diperoleh dapat digunakan untuk melihat bentuk permukaan tanah, perubahan ketinggian, kemiringan, serta posisi berbagai objek yang terdapat di area proyek. Penggunaan drone memungkinkan pengambilan data dari udara sehingga cakupan survei dapat dilakukan secara lebih luas. Hasil akuisisi kemudian dapat diproses menjadi berbagai data pemetaan, seperti Digital Elevation Model (DEM), Digital Surface Model (DSM), orthomosaic, point cloud, contour map, maupun model tiga dimensi.
Mendukung Penentuan Lokasi Turbin dan Infrastruktur
Data melalui drone untuk survei topografi dapat menjadi salah satu referensi untuk memahami kondisi setiap lokasi yang akan dikembangkan. Model permukaan yang dihasilkan dari survei drone dapat digunakan untuk melihat perubahan elevasi dan kemiringan lahan pada area calon turbin. Informasi tersebut dapat dikombinasikan dengan data lain, seperti hasil pengukuran angin, batas lahan, kondisi geologi, serta penggunaan lahan untuk mendukung analisis lokasi.
Data topografi juga dapat membantu perencanaan berbagai fasilitas pendukung. Selain turbin, proyek PLTB membutuhkan akses konstruksi, area kerja, fasilitas kelistrikan, dan infrastruktur lainnya. Dengan model kondisi lahan yang lebih detail, kebutuhan pekerjaan sipil pada setiap area dapat dipelajari sejak tahap perencanaan. Hal ini menjadi semakin relevan pada proyek dengan banyak titik turbin. Ketika seluruh area dipetakan dalam satu sistem koordinat, tim dapat memiliki referensi spasial yang sama ketika melakukan pembahasan mengenai lokasi turbin maupun infrastruktur pendukung.
Memetakan Jalur Akses dan Mobilisasi
Salah satu bagian penting lain yang harus diperhatikan dalam rencana pembangunan PLTB adalah mobilisasi komponen menuju lokasi. Bilah turbin, tower, dan komponen lainnya memiliki ukuran besar sehingga jalur transportasi perlu diperiksa berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Survei menggunakan drone dapat membantu memetakan jalur akses menuju area pembangunan. Kondisi jalan, perubahan elevasi, tikungan, jembatan, serta hambatan di sepanjang jalur dapat didokumentasikan secara spasial.
Hasil pemetaan dapat digunakan untuk mengidentifikasi bagian jalur yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, misalnya area yang perlu diperlebar, diperbaiki, atau disiapkan sebagai jalur alternatif. Data tersebut juga dapat menjadi referensi awal dalam perencanaan pekerjaan konstruksi dan mobilisasi peralatan. Penggunaan drone menjadi relevan terutama ketika jalur akses melewati area yang luas atau memiliki medan yang sulit dijangkau. Tim tidak hanya memperoleh foto udara, tetapi juga dapat memiliki data geospasial yang dapat diukur dan dianalisis lebih lanjut.
LiDAR untuk Area dengan Vegetasi
Kondisi medan proyek onshore wind tidak selalu berupa lahan terbuka, beberapa lokasi potensial dapat memiliki tutupan vegetasi yang cukup rapat. Pada kondisi tersebut, teknologi LiDAR yang dipasang pada drone dapat digunakan sebagai salah satu metode pengumpulan data elevasi dalam survei topografi. LiDAR bekerja dengan memancarkan pulsa laser menuju permukaan dan mengukur waktu yang dibutuhkan hingga pantulan kembali diterima sensor. Hasil pengukuran kemudian dapat diproses menjadi point cloud tiga dimensi yang menggambarkan kondisi area.
Salah satu keunggulan LiDAR adalah kemampuannya menghasilkan informasi mengenai permukaan tanah pada kondisi tertentu yang memiliki vegetasi. Pulsa laser dapat melewati celah di antara vegetasi sehingga sebagian data dapat merepresentasikan permukaan tanah di bawahnya. Hal ini dapat membantu ketika tim membutuhkan informasi mengenai kontur dan elevasi pada area yang tidak sepenuhnya terbuka. Meski demikian, pemilihan antara LiDAR dan fotogrametri tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi, tingkat tutupan vegetasi, luas area, kebutuhan akurasi, serta jenis data yang diperlukan. Tidak semua proyek membutuhkan sensor yang sama, sehingga metode survei perlu ditentukan berdasarkan kebutuhan teknis masing-masing lokasi.
Menggabungkan Data Topografi dengan Data Proyek
Data topografi merupakan salah satu bagian dari keseluruhan informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan proyek energi angin. Agar dapat memberikan gambaran lokasi yang lebih menyeluruh, hasil survei dapat dikombinasikan dengan berbagai data lain. Data kecepatan dan arah angin, misalnya, dapat dianalisis bersama informasi topografi untuk memahami karakteristik lokasi. Data geologi dan kondisi tanah dapat digunakan untuk kebutuhan kajian pekerjaan sipil, sementara informasi jaringan listrik dan akses transportasi dapat membantu melihat hubungan lokasi proyek dengan infrastruktur yang tersedia.
Penggabungan berbagai informasi tersebut juga memungkinkan data survei digunakan oleh berbagai disiplin dalam satu proyek. Surveyor, civil engineer, geologist, maupun tim perencana dapat menggunakan referensi spasial yang sama ketika melakukan analisis dan koordinasi. Model tiga dimensi yang dihasilkan dari survei drone juga dapat membantu menyampaikan kondisi lokasi secara lebih mudah, dibandingkan hanya menggunakan tabel koordinat atau foto lapangan, visualisasi tiga dimensi dapat memberikan konteks mengenai bentuk medan dan posisi objek di area proyek.
Data Drone untuk Monitoring Konstruksi
Pemanfaatan drone juga dapat dilanjutkan setelah survei awal selesai. Ketika proyek memasuki tahap konstruksi, pengambilan data udara secara berkala dapat digunakan untuk mendokumentasikan perubahan kondisi lokasi. Survei pada beberapa periode memungkinkan tim membandingkan kondisi area dari waktu ke waktu. Perubahan pada akses, area kerja, lokasi pembangunan turbin, maupun timbunan material dapat terlihat melalui data spasial dan dokumentasi udara. Data tersebut dapat digunakan untuk mendukung pemantauan progres, dokumentasi pekerjaan, hingga pengukuran perubahan volume material tertentu. Dengan metode akuisisi yang dilakukan secara konsisten, hasil dari beberapa periode survei dapat dibandingkan untuk memberikan gambaran perkembangan proyek secara lebih terukur.
Kebutuhan data juga dapat berubah seiring tahapan proyek. Pada tahap awal, fokus dapat berada pada pemetaan kondisi eksisting dan penentuan lokasi. Selanjutnya, data dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan sipil, monitoring konstruksi, dan dokumentasi perubahan area. Pengembangan energi angin di Indonesia akan melibatkan lokasi dengan karakteristik geografis yang beragam. Karena itu, kebutuhan survei tidak dapat disamakan untuk setiap proyek. Luas area, kondisi medan, tutupan vegetasi, kebutuhan akurasi, akses lokasi, hingga jenis informasi yang diperlukan perlu dipertimbangkan ketika menentukan metode akuisisi data.
Dalam konteks tersebut, drone untuk survei topografi dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperoleh data spasial secara lebih menyeluruh. Dengan sensor dan metode pemetaan yang disesuaikan dengan kondisi area, data yang dihasilkan dapat mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari pemahaman kondisi lahan, perencanaan lokasi turbin dan jalur akses, hingga monitoring selama konstruksi. Terra Drone Indonesia menyediakan layanan survei dan pemetaan berbasis drone yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek. Pendekatan survei dapat mempertimbangkan karakteristik area, jenis sensor yang diperlukan, serta bentuk data yang dibutuhkan untuk mendukung tahapan perencanaan maupun pelaksanaan proyek onshore wind.
