Contoh hasil pemodelan situasi eksisting

Terra Drone Indonesia ikut andil dalam pelaksanaan program Revitalizing Informal Settlements and their Environments (RISE) khususnya pada bagian survei pemetaan topografi dan pemodelan bangunan menggunakan drone. Program tersebut diprakrasai oleh Monash University yang bekerjasama dengan Universitas Hasanudin. Pekerjaan pemetaan dengan drone tersebut telah selesai dilaksanakan di 11 lokasi permukiman terpilih di kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada bulan Februari hingga Maret 2019 lalu.

Program RISE sendiri merupakan program pengujian dengan pendekatan Water Sensitive Cities di 24 pemukiman kumuh perkotaan di Indonesia dan Fiji, yang bertujuan untuk membuktikan bahwa solusi berbasis alam – seperti membangun rawa-rawa buatan dan penyaringan alami pada taman-taman – dapat membawa efek keberlanjutan, efektifitas biaya, dan perbaikan kesehatan serta lingkungan.
Penerapan teori Water Sensitive Cities (WSC) atau kota yang peka terhadap air diharapkan dapat mengurangi kontaminasi kotoran tinja yang menyebar secara terbuka dan meningkatkan kesehatan pencernaan manusia, terkhusus pada anak berusia dibawah 5 tahun. Program ini akan berjalan selama lima tahun di dua negara, dan melibatkan langsung lebih dari 20 institusi salah satunya ialah Monash University dan Universitas Hasanuddin.

Pilot bersiap menerbangkan drone

Hasil foto udara menggunakan drone tersebut dibutuhkan untuk memberikan informasi mengenai kondisi eksisting (rona awal) bangunan, sistem sanitasi, drainase, dan objek-objek lain yang selanjutnya dibuat rencana pembangunan sarana dengan solusi berbasis alam di permukiman terpilih tersebut.
Foto udara menggunakan drone telah menjadi standar dalam berbagai pekerjaan karena memberikan informasi yang detail dari suatu wilayah sehingga membantu proses pengukuran sekaligus sebagai pengembangan dari konsep dan rencana detail. Data yang dihasilkan pun menjadi sistem referensi global dan secara teknis dapat diolah untuk keperluan lain.